Selasa, 28 April 2015

Kesehatan Mental dan Social Support (Dukungan Sosial)




Kesehatan Mental dan Social Support (Dukungan Sosial)

Secara umum kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup. Dalam hal kejiwaan kesehatna mental dapat diartikan sebagai terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan gejala-gejala penyakit jiwa (psychose). Pribadi yang normal/ bermental sehat adalah pribadi yang menampilkan tingkah laku yang adekuat & bisa diterima masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai norma & pola kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal & intersosial yang memuaskan (Kartono, 1989). Sedangkan menurut Karl Menninger, individu yang sehat mentalnya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki sikap hidup yang bahagia. Saat ini, individu yang sehat mental dapat dapat didefinisikan dalam dua sisi, secara negative dengan absennya gangguan mental dan secara positif yaitu ketika hadirnya karakteristik individu sehat mental. Adapun karakteristik individu sehat mental mengacu pada kondisi atau sifat-sifat positif, seperti: kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang positif, karakter yang kuat serta sifat-sifat baik/ kebajikan (virtues) (Lowenthal, 2006). Kesehatan mental bukan saja merupakan ketiadaan akan penyakit mental. Kesehatan mental yang positif melibatkan suatu perasaan yang sejahtera dari sisi psikologis yang berjalan beriringan dengan perasaan sehat (Keyes & Saphiro, 2004;Ryff & Singer, 1998). Perasaan subjektif akan kesejahteraan, atau kebahagiaan merupakan penilaian seseorang akan kehidupannya (Diener, 2000).
Penegertian diatas dijelaskan bahwa kesehatan mental berhubungan erat dengan kehidupan sosial yaitu dalam hal komunikasi dan interaksi. Dalam kehidupan bersosial manusia perlu mendapatkan dukungan sosial. Sarafino (1994) menggambarkan dukungan sosial sebagai suatu kenyamanan, perhatian, penghargaan ataupun bantuan yang diterima individu dari orang lain maupun kelompok. Dalam pengertian lain disebutkan bahwa dukungan sosial adalah kehadiran orang lain yang dapat membuat individu percaya bahwa dirinya dicintai, diperhatikan dan merupakan bagian dari kelompok sosial, yaitu keluarga, rekan kerja dan teman dekat (Casel dalam Sheridan&Radmacher, 1992). Siegel (dalam Taylor, 1999) mengemukakan, dukungan sosial sebagai informasi dari orang lain yang menunjukan bahwa ia dicintai dan diperhatikan, memiliki harga diri dan dihargai serta merupakan bagian dari jaringan komunikasi dan kewajiban bersama. Dari beberapa pendapat tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan social merupakan ketersediaan sumber daya yang memberikan kenyamanan fisik dan psikologis yang didapat melalui interaksi individu dengan orang lain sehingga individu tersebut merasa dicintai, diperhatikan, dihargai dan merupakan bagian dari kelompok social.
Bentuk-bentuk Dukungan Sosial
House, dkk (dalam Sarafino, 1994) mengemukakan beberapa bentuk dukungan sosial, antara lain:
·         Dukungan Emosional (Emotional Support)
Dinyatakan dalam bentuk bantuan yang memberikan dorongan untuk memberikan kehangatan dan kasih sayang, memberikan perhatian, percaya terhadap individu serta pengungkapan simpati.
·         Dukungan Penghargaan (Esteem Support)
House (dalam Smet, 1994) menyatakan bahwa, dukungan penghargaan dapat diberikan melalui penghargaan atau penilaian yang positif kepada individu, dorongan maju dan semangat atau persetujuan mengenai ide atau pendapat individu serta melakukan perbandingan secara positif terhadap orang lain.
·         Dukungan Instrumental (Tangible or Instrumental Support)
Mencakup bantuan langsung, seperti memberikan pinjaman uang atau menolong dengan melakukan suatu pekerjaan guna menyelesaikan tugastugas individu.
·         Dukungan Informasi (Informational Support)
Memberikan informasi, nasehat, sugesti ataupun umpan balik mengenai apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang lain yang membutuhkan.
·         Dukungan Jaringan Sosial (Network Support)
Jenis dukungan ini diberikan dengan cara membuat kondisi agar seseorang menjadi bagian dari suatu kelompok yang memiliki persamaan minat dan aktivitas sosial. Dukungan jaringan sosial juga disebut sebagai dukungan persahabatan (Companioship Support) yang merupakan suatu interaksi social yang positif dengan orang lain, yang memungkinkan individu dapat menghabiskan waktu dengan individu lain dalam suatu aktivitas sosial maupun hiburan.

Komponen-komponen Dukungan Sosial
Weiss (dalam Cutrona, 1994) mengemukakan adanya enam komponen dukungan sosial yang disebut sebagai “The Social Provision Scale” dimana masing masing komponen alat berdiri sendiri, namun satu sama lain saling berhubungan. Adapun komponen tersebut antara lain:

a)      Instrumental Support
·         Reliable Alliance (Ketergantungan yang dapat diandalkan)
Dalam dukungan sosial ini, individu mendapat jaminan bahwa ada individu lain yang dapat diandalkan bantuannya ketika individu membutuhkan bantuan, bantuan tersebut sifatnya nyata dan langsung. Individu yang menerima bantuan ini akan merasa tenang karena individu menyadari ada individu lain yang dapat diandalkan untuk menolongnya bila individu mengalami masalah dan kesulitan.
·         Guidance (Bimbingan)
Dukungan sosial ini berupa nasehat, saran dan informasi yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan yang dihadapi. Dukungan ini juga dapat berupa feedback (umpan balik) atas sesuatu yang telah dilakukan individu.
b)      Emotional Support
·         Reassurance of Worth (Pengakuanpositif)
Dukungan sosial ini berbentuk pengakuan atau penghargaan terhadap kemampuan dan kualitas individu. Dukungan ini akan membuat individu merasa dirinya diterima dan dihargai.
·         Emotional Attachment (Kedekatan emosional)
Dukungan sosial ini berupa pengekspresian dari kasih sayang, cinta, perhatian dan kepercayaan yang diterima individu, yang dapat memberikan rasa aman kepada individu yang menerima.
·         Social Integration ( Integrasi sosial)
Dukungan sosial ini memungkinkan individu untuk memperoleh perasaan memiliki suatu kelompok yang memungkinkannya untuk membagi minat, perhatian serta melakukan kegiatan secara bersama-sama. Dukungan semacam ini memungkinkan individu mendapatkan rasa aman, nyaman serta merasa memiliki dan dimiliki dalam kelompok yang memiliki persamaan minat.
·         Opportunity to Provide Nurturance (Kesempatan untuk mengasuh)
Suatu aspek penting dalam hubungan interpersonal adalah perasaan dibutuhkan oleh orang lain. Dukungan sosial ini memungkinkan individu untuk memperoleh perasaan bahwa orang lain tergantung padanya untuk memperoleh kesejahteraan.
Goetlieb (1983) menyatakan ada dua macam hubungan dukungan sosial, yaitu hubungan professional yakni bersumber dari orang-orang yang ahli di bidangnya, seperti konselor, psikiater, psikolog, dokter maupun pengacara, serta hubungan non professional, yakni bersumber dari orang-orang terdekat seperti teman, keluarga maupun relasi.
Konsepsi yang salah mengenai kesehatan mental, selama ini masih banyak mitos dan konsepsi yang diyakini masyarakat Indonesia mengenai Kesehatan Mental yang keliru, antara lain: gangguan mental adalah herediter/ diturunkan, gangguan mental tidak dapat disembuhkan, gangguan mental muncul secara tiba-tiba, gangguan mental merupakan aibnagi keluarga dan bagi lingkungannya. Hal ini sangat berdampak buruk pada seseorang yang sedang terkena gangguan mental. Mereka yang terkena gangguan mental ringan maupun berat harus mendapatkan dukungan social baik dari keluarga, sahabat, teman, maupun lingkungan sekitar mereka. Myers (dalam Hobfoll, 1986) mengemukakan bahwa sedikitnya ada tiga faktor penting yang mendorong seseorang untuk memberikan dukungan yang positif, diantaranya:
·         Empati, yaitu turut merasakan kesusahan orang lain dengan tujuan mengantisipasi emosi dan memotivasi tingkah laku untuk mengurangi kesusahan dan meningkatkan kesejahteraan orang lain.
·         Norma dan nilai sosial, yang berguna untuk membimbing individu untuk menjalankan kewajiban dalam kehidupan.
·         Pertukaran sosial, yaitu hubungan timbal balik perilaku sosial antara cinta, pelayanan, informasi. Keseimbangan dalam pertukaran akan menghasilkan hubungan interpersonal yang memuaskan. Pengalaman akan pertukaran secara timbal balik ini membuat individu lebih percaya bahwa orang lain akan menyediakan bantuan.









Daftar Pustaka

Kartika Sari Dewi. (2012). Kesehatan Mental. Semarang: UPT UNDIP Semarang



Diane E. Papalia, Sally Wendkos Olds, & Ruth Duskin Fieldman. (2009). Human Development. Jakarta: Salemba Humanika.

Amie Ristianti. Hubungan Antara Dukungan Sosial Teman Sebaya dengan Identitas Diri Pada Remaja d  SMA Pusaka 1 Jakarta. Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma


Fenomena Depresi Pada Kalangan Masa Dewasa Awal



Fenomena Depresi Pada Kalangan Masa Dewasa Awal

Setiap orang hampir pernah mengalami depresi pada saat-saat tertentu, seperti misal sedih, lesu, tidak minat pada aktifitas apapun meskipun menyenangkan. Depresi merupakan emosi yang datang di tengah ketidakberdayaan kegagalan individu, dan datang saat individu berusaha untuk mendapatkan kekuasaan yang belum dapat direalissasikam (Seligman, 1993). Depresi adalah perasaan sedih, pesimis, dan merasa kesendirian yang merupakan bagian dari depresi mayor dan gangguan masalah mood lainnya (Kaplan & Sadock, 1996). Situasi yang menjadi penyebab utama depresi adalah kegagalan di sekolah di tempat kerja, atau kegagalan dalam hal cinta. Depresi pada orang normal dapat diartikan sebagai keadaan murung (kesedihan, patah hati dan patah semangat) yang ditandai dengan perasaan tidak puas, menurunnya aktifitas, dan pesimisme di dalam masa datang. Sedangkan depresi abnormal dapat diartikan sebagai ketidakmauan ekstrem untuk mereskpop stimulus dan disertai dengan menurunnya nilai diri, ketidakmampuan delusi, dan putus asa (Chaplin, 1995). Penderita depresi tidak mampu mengambil keputusan untuk memulai suatu kegiatan atau memusatkan suatu perhatiannya pada suatu hal yang menarik. Dalam taraf ekstrim, penderita dapat disertai adanya kecemasan dan bisa jadi untuk mencoba untuk bunuh diri (Atkinson dkk., 1992)
Masa dewasa awal adalah periode antara remaja akhir dan pertengahan dewasa sampai sekitar akhir 30-an (Edelman dan Mandle, 1994 dalam Potter &Perry, 2005). Selama masa dewasa awal indvidu semakin terpisah dari keluarga asal, membangun tujuan karir, dan memutuskan apakah akan menikah dan memulai sebuah keluarga atau memutuskan hidup sendiri. Dewasa awal adalah usia aktif dan harus beradaptasi dengan pengalaman baru. Penelitian oleh Levinson mengidentifikasi fase-fase perkembangan dewasa awal menjadi fase awal transisi dewasa (usia18-20 tahun) ketika seseorang terpisah dari keluarga dan merasakan kebebasan; selanjutnya memasuki dunia kedewasaan (usia 21-27 tahun) ketika seseorang menyiapkan dan mencoba karir dengan gaya hidup; masa transisi (usia 28-32 tahun) ketika seseorang secara besar-besaran memodifikasi aktifitas kehidupannya dengan memikirkan tujuan masa depan (Potter & Perry, 2005).
Masa dewasa awal merupakan periode yang penuh tantangan, penghargaan, dan krisis. Tantangan ini meliputi tuntutan kerja dan membentuk keluarga. Dewasa awal harus membuat keputusan mengenai karir, pernikahan dan menjadi orang tua. Pada usia dewasa awal juga menghadapi krisis seperti merawat orang tua yang telah lanjut usia. Dewasa awal kadang terjebak antara keinginan untuk memperpanjang masa remaja yang tidak ada tanggung jawab dan keinginan untuk memikil tanggung jawab dewasa. Dewasa yang gagal mencapai tugas perkembangan integrasi personal mengembangkan hubungan secara superfisial dan stereotip. Masalah kesehatan psikososial dewasa awal sering berhubungan dengan stress, seperti stress pada pekerjaan dan keluarga (Potter dan Perry, 2005). Kegagalan-kegagalan seseorang dalam tantangan masa dewasa awal inilah yang dapat menyebabkan seseorang merasa putus asa dan mengalami depresi. Depresi pada masa dewasa awal juga dapat disebabkan oleh pemikiran individu-individu masa dewasa awal yang dibiasakan pada interpretasi negative. Interpretasi tentang diri seperti gambaran pseimis tentang diri, dunia dan masa depan. Sikap-sikap negative akan membuat bias-bias kognitif dan memicu depresi.
Beberapa gejala yang mungkin terjadi pada seseorang yang mengalami depresi (keltner, dkk, 1999) yaitu:
·         Kejilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau hamper semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari, hamper setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain);
·         Khilangan berat badan yang signifikan saat tidakdiet atau bertambahnya berat badan secara signifikan (missal: perubahan berat badan lebih dari 5% berat badan sebelumnya dalam satu bulan);
·         Insomnia atau hypersomnia hamper setiap hari;

·         Kegelisahan atau kelambatan psikomotor hamper setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, bukan hanya perasaan subjektif akan kegelisahan atau merasa lambat);
·         Perasaan lelah atau kehilangan kekuatan hamper setiap hari;
·         Persaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan dan tidak wajar (bisa merupakan delusi) hamper setiap hari;
·         Berkurangnya kemampuan untuk berfikir atau berkonsentrasi, atau sulit membuat keputusan, hamper setiap hari (ditandai oleh laporan subjektif atau pengamatan orang lain);
·         Berulang kali muncul pikiran akan kematian (bukan hanya takut mati), berulang kali muncul pikiran untuk bunuh diri tanpa renana yang jelas, atau usaha bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk mengakhiri nyawa sendiri.


tips untuk mencegah depresi:

  •  Berpikiran positif atau Positive Thinking, dengan begitu jika ada masalah yang datang anda bisa mengatasinya dengan mengambil hikmah dan mencari solusi untuk memecahkan sebuah masalah yg sedang anda alami.
  • Bercerita kepada orang lain, jika memiliki masalah walaupun sedikit mulailah bercerita kepada keluarga, teman atau padangan. karena dengan begitu kita tidak akan menyimpan masalah agar tidak bertumpuk dan mampu mengekspresikan emosi negatif kita. 
  • liburan, melakukan hobi. sempatkanlah liburan bersama keluarga, sahabat, dan teman yang anda kenal atau menjalani hobi anda dengan begitu dapat melepas beban pekerjaan yang sedang anda alami. 
  • Berdoa, setiap orang memiliki keyakinan atau agama masing-masing. dengan berdoa kita dapat mengingat bahwa agama menanamkan kesadaran akan eksistensi diri manusia sebagai makhluk yang lemah dengan segala keterbatasan. Hal ini akan menyadarkan manusia tentang kehidupannya, kedudukan, popularitas, kecerdasan dll. dan dengan berdoa kita dapat mendapatkan ketenangan diri.




Daftar Pustaka

Diane E. Papalia, Sally Wendkos Olds, & Ruth Duskin Fieldman. (2009). Human Development. Jakarta: Salemba Humanika.
B.P. Dwi Riyanti & Hendro Prabowo. (1998). Psikologi Umum 2. Jakarta: Gunadarma
Aulia Maulida. (2012). Gambaran Tingkat Depresi Pada Mahasiswa Program Sarjana yang Melakukan Konseling Di Bidang Konseling Mahasiswa Universitas Indonesia. Diunduh Dari lib.ui.ac.id/file?file=digital/20313177-S43732-Gambaran%20tingkat.pdf. Pada Tanggal 28 april 2015 Pukul 20.50



Minggu, 22 Maret 2015

SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL

Sejarah perkembangan kesehatan mental pertama kali itu pada jaman nenek moyang yang mengalami gangguan mental seperti halnya homo sapiens sendiri . Mereka mengalami kecelakaan dan demam yang merusak mental . Jadilah manusia yang dengan rasa putus asa selalu berusaha buat menjelaskan tentang penyakit mental . Dengan kesehatan mental ini kita dapat bandingkan dengan mata uang yang mempunyai dua sisi yang di sisi satunya sakit dan yang di sisi satunya lagi baik . Di sisi ini dapat dilihat kemungkinan di kedua sisi itu kira kira 50:50 .
Perlu diketahui disini sejarah tercatat melaporkan berbagai macam interpretasi mengenai penyakit mental dan cara menghilangkannya. Hal ini disebabkan oleh dua alasan , yaitu (1) Sifat dari masalah yang disebabkan oleh tingkah laku abnormal membuatnya menjadi merasa ketakutan. (2) Perkembangan semua ilmu pengetahuan begitu lambat , dan banyak kemajuan yang sangat penting. Pada masa awal awal orang yang sakit mental dapat dipahami secara seluruh sering diperlakukan dengan kurang baik. Di jaman prasejarah pun manusia purba sering kali mengalami gangguan mental baik fisik maupun gangguan gangguan yang baik. Di jaman prasejarah ini juga terdapat perawatan-perawatan untuk penyakit gangguan mental yaitu : menggosok,menjilat,mengisap dan memotong.Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karna masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat. Hal ini lebih karna mereka sehari-hari hiduo bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang biasa bukan lagi sebagai gangguan.
Gangguan mental Tidak Dianggap Sebagai Sakit
Pada tahun 1600 dan sebelumnya , orang yang mengalami gangguan mental dengan cara memanggil kekuatan supranatural dan menjalani ritual penebusan dan penyucian. Pandangan terhadap masyarakat ini menganggap bahwa orang yang mengalami gangguan mental adalah karna mereka dimasuki oleh roh-roh yang ada disekitarnya.

Sejarah kesehatan mental merupakan cerminan dimana pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan perlakuan yang diberikan. Ada beberapa pandangan masyarakat terhadap gangguan mental di dunia Barat antara lain :
- Akibat kekuatan supranatural
- Dirasuk oleh roh atau setan
- Dianggap kriminal karna memiliki derajad kebinatangan yang lebih besar
- Dianggap sakit
Tahun 1692 mendapatkan suatu pengaruh para imigran dari Eropa yang beragama Nasrani, di Amerika orang yang bergangguan mental saat itu sering dianggap terkena shir atau guna-guna. Ini merupakan penjelasan yang diterima secara umum sehingga masyarakat takut dan membenci mereka yang dianggap memiliki kekuatan sihir
Gangguan Mental Dianggap Sebagai Sakit
Tahun 1724 pendeta Cotton Mather (1663-1728) mematahkan takhayul yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa itu sendiri.
Tahun 1812 , Benjamin Rush (1745-1813) menjadi salah satu yang menangani masalah penanganan secara mental. Antara tahun 1830-1860 di Inggris timbul menangani pasien sakit jiwa. Pada masa ini tumbuh penanganan dirumah sakit jiwa merupakan hal ilmiah untuk menyembuhkan kegilaan. 
Melawan Diskriminasi Terhadap Gangguan Mental
Dunia medis memberikan pandangan tersendiri terhadap pemahaman mengenai gangguan mental. Dunia medis memandang penderita gangguan mental sebagai betul mengalami sakit. Dunia medis melihat sakit mental sebagai berakar dari sakit ketubuhan terutama otak.
Ilmu perilaku yang semakin berkembang juga memberikan pemahaman tersendiri mengenai gangguan mental. Berdasarkan pandangan ini penderita gangguan mental dimaknai sebagai ketidakmampuan mereka untuk melakukan penyesuaian diri yang sesuai dengan realitanya.

DEFINISI SEHAT

Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas daripenyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Menurut WHO (1947)Definisi Sehat Dalam Keperawatan Sehat : Perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (Aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural. (Pender (1982))Sehat : Fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces)yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( self care Aktions) secara adekual.Self care Resoureces : mencangkup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care Aktions : Perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahan kan dan menigkatkan fungsi psicososial da piritual.(Paune (1983) Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosialdan ekonomi (UU No.23,1992)

CIRI-CIRI SEHAT
Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran,emosional, dan spiritual.
1.Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
2.Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
3.Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasasyukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fanaini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang.
4.Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku,agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
5.Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif,dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagimereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagikelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut. Aspek-aspek pendukung kesehatan
Banyak orang berpikir bahwa sehat adalah tidak sakit, maksudnya apabila tidak ada gejala penyakit yang terasa berarti tubuh kita sehat. Padahal pendapat itu kurang tepat. Ada kalanya penyakit baru terasa setelah cukup parah, seperti kanker yg baru diketahui setelah stadium 4. Apakah berarti sebelumnya penyakit kanker itu tidak ada? Tentu saja ada, tetapi tidak terasa. Berarti tidak adanya gejala penyakit bukan berarti sehat.Sesungguhnya sehat adalah suatu kondisi keseimbangan, di mana seluruh sistem organ di tubuh kita bekerja dengan selaras. Faktor-faktor yang mempengaruhi keselarasan tersebut berlangsung seterusnya adalah:
1.Nutrisi yang lengkap dan seimbang
2.Istirahat yang cukup
3.Olah Raga yang teratur
4.Kondisi mental, sosial dan rohani yang seimbang
5.Lingkungan yang bersih
Apabila salah satu saja dari kelima faktor ini tidak tercukupi, akan membuat keseimbangan kinerja organ tubuh terganggu. Sesungguhnya tubuh memiliki mekanisme otomatis untuk mengembalikan keseimbangan kesehatannya , akan tetapi apabila hal ini berlangsung terus-menerus atau kekurangan tersebut dalam jumlah yg cukup besar, maka tubuh tidak mampu mengembalikan keseimbangan, dan hal inilah yg kita sebut sakit.Istimewanya tubuh manusia, walaupun dalam kondisi sakit tubuh tersebut tetap dapat memulihkan dirinya sendiri. Untuk itu perlu dibantu dengan memberikan nutrisi dalam jumlah yang memadai secara lengkap ditambah dengan istirahat yang cukup. Dalam keadaan ini obat bukanlah faktor utama pemulihan, karena ada sebagian orang yg dapat pulih dari sakit tanpa bantuan obat, seperti misalnya penderita flu dan pilek. Obat dapat digunakan untuk membantu mengurangi gejala, tetapi penggunaannya tidak boleh berlebihan dan harus sesuai dengan petunjuk dokter.

KESEHATAN MENTAL KONSEP BARAT DAN TIMUR

Model-model kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut.
Model Biomedis (Freund, 1991)memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu. Kedua, penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau neurofisiologis. Ketiga, setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi. Keempat, melihat tubuh sebagai suatu mesin. Kelima, konseb tubuh adalah objel yang perlu diatur dan dikontrol.
Model Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan penggunaan  treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas.
Model Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik.



DAFTAR PUSTAKA
http://gerdysangpenakluk.blogspot.com/2013/03/sejarah-perkembangan-kesehatan-mental.html
https://xiaolichen14.wordpress.com/2013/03/25/konsep-sehat/
http://ajengfebriyanti27.blogspot.com/2012/03/sejarah-perkembangan-kesehatan-mental.html